
Penulis :
Easter Ch.M. Tulung, S.IK, M.Si
(Dosen Pariwisata Politeknik Negeri Manado)
Linda E.M. Sinolungan, S.Pd, MM
(Dosen Pariwisata Politeknik Negeri Manado)
Bagian Kedua
- Malalayang Beach Walk : Membangun Apa yang Dibutuhkan dan Memelihara Apa yang Perlu Dilestarikan.
Penataan kawasan destinasi wisata Pantai Malalayang yang dikenal dengan nama Malalayang Beach Walk merupakan salah satu program strategis Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) Manado-Bitung-Likupang dalam menciptakan destinasi wisata baru sekaligus memperkuat karakter kawasan maritim yang menjadi salah satu arahan Presiden Indonesia yaitu untuk memperkuat kembali Indonesia sebagai poros maritim. Pengembangan kawasan pantai Malalayang sudah diresmikan Tahun 2023 oleh Presiden Joko Widodo didampingi Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondongkambey dan Walikota Manado Andre Angouw.
Penataan besar-besaran yang menghadirkan wajah baru pantai dengan jalur pedestrian, ruang terbuka hijau, area ramah difabel, area kuliner, spot foto dan fasilitas edukatif tentang ekosistem pesisir, yang tidak hanya mempercantik kota, tetapi juga telah meningkatkan ekonomi Masyarakat lokal melalui UMKM dan pariwisata dengan terbangunnya area wisata, fasilitas cultural space, fasilitas coral bridge and dack, fasilitas area landmark, fasilitas promenade, fasilitas tower dan dermaga, diving centre serta ditunjang fasilitas parkir kendaraan dan didukung jaringan perpipaan SPAM yang tentunya menjadi fitur unggulan pada Malalyang Beach Walk.
Kementerian PUPR menyatakan bahwa penataan ini telah memperkuat daya tarik wisata bahari dan mendukung pertumbuhan kawasan pesisir secara berkelanjutan.
Kenyataan yang ada dan harus diakui bahwa pembangunan selalu berhadapan dengan resiko dan tantangan pengaturan dan pengendalian dampak lingkungan, untuk itu dalam pembengunan MBW dituntut kebijaksanaan dalam menjalankan peran agar dapat meminimalkan keadaan buruk yang terjadi. Patut menjadi perhatian bahwa proses Pembangunan MBW ditekankan bahwa tidak boleh ada masalah dan polemik baru, sehingga tidak memunculkan berbagai tanggapan timbulnya dampak-dampak negatif terhadap lingkungan. Dalam prosesnya, Pembangunan MBW diperhadapkan dan ditinjau dengan berbagai pertimbangan lingkungan, teknik dan ekonomi dengan tidak mengabaikan masalah pertimbangan sosial budaya dan kepentingan masyarakat, sehingga tercapai keseimbangan dan keserasian dalam pendayagunaan lingkungan binaan tersebut. Esensialnya adalah Pembangunan Malalayang Beach Walk yang dilakukan dengan mempertimbangkan proses ekologi, selain itu berusaha menghindari terjadinya penghilangan kawasan yang spesifik. Maka jelaslah penekanan yang dilakukan dalam Pembangunan MBW Adalah membangun kawasan yang memang perlu dibangun, dan memperbaiki kawasan yang telah dibangun namun memerlukan renovasi atau revitalisasi, dan juga ada kawasan yang hanya perlu ditingkatkan kualitas visualnya dengan tidak mengubah kondisi fisik atau alamnya.
Diamati bahwa penekanan pembangunan tepian pantai Malalayang tidak terlalu berlebihan pada aspek ekonomi karena cikal bakal ekonomi yang bergerak disitu adalah usaha pengelolaan ekonomi masyarakat setempat yang sudah ada sebelumnya di tempat itu, sehingga tranformasi yang terjadi masih mengakomodasi kekhasan ekologi dan sosial budaya setempat maupun kepentingan masyarakat banyak. Hal ini terjawab dengan Pembangunan MBW yang memberi dampak peningkatan ekonomi masyarakat lokal melalui UMKM dan pariwisata dengan terbangunnya area wisata yang berkapasitas 2.500 pengunjung/hari, fasilitas cultural space yang menampung 500 jiwa pengunjung, fasilitas coral bridge and dack dengan daya tampung 500 jiwa pengunjung, fasilitas area landmark dengan daya tampung 500 jiwa pengunjung, fasilitas promenade sepanjang 800 meter yang mampu menampung hingga 1.000 pengunjung per hari, fasilitas tower dan dermaga, diving centre serta ditunjang fasilitas parkir kendaraan dan didukung jaringan perpipaan SPAM.
Masyarakat merasa tidak dirugikan dengan perubahan yang ada dengan berbagai kebijakan pembangunan, transformasi terjadi tanpa penggusuran lokasi wisata rakyat, penggusuran aktivitas nelayan, atau penggusuran kegiatan lainnya yang disebabkan oleh tuntutan Pembangunan Malalayang Beach Walk.
Dengan adanya penataan land scape yang lebih baik dan maksimal, maka pasti ada nilai tambah yang tidak saja lebih menekankan pada aspek keuntungan ekonomi semata, tetapi mampu mengangkat keadaan kondisi sosial budaya dan tidak menghilangkan identitas ekologi.

Gambar 3 (Membangun, memelihara dan melestarikan kios kios makanan pedagang tradisional. Kios-kios tradisional berganti menjadi kos-kios bangunan modern)
Pemandian rakyat disekitar jalur Malalayang Beach walk tetap dipertahankan dan masih menjadi lokasi rekreasi umum dimana masyarakat menikmati keindahan alam dengan mandi-mandi di pantai, duduk-duduk menikmati keindahan alam dan situasi disekitarnya. Kompleks pemandian ini akan terus menghidupkan kios ikan bakar, kios jagung bakar dan masih banyak kios-kios yang lain, yang tentunya mengharapkan rezeki dari dampak kegiatan pemandian tersebut. Dalam pengembangannya pada tahun 2020-2022, penataan kawasan destinasi Malalayang Beach Walk ini telah menghadirkan kembali kios-kios tersebut dalam bentuk pembangunan warung apung dan kios-kios pedagang. Dengan adanya penanganan khusus pengembangan kios ikan bakar, kios jagung bakar dan kios-kios lainnya, diharapkan dapat mengangkat dan menghadirkan mereka sebagai citra lingkungan (land mark) sehingga memungkinkan untuk menjadi unsur penunjang lingkungan wisata Kota Manado. Dengan demikian Malalayang Beach Walk telah memberi nilai sosial dan nilai ekologis yang mampu mendorong pariwisata berkelanjutan, menjadi ruang interaksi sosial warga, memberi peluang ekonomi bagi UMKM lokal dan menjadi potensi edukasi lingkungan dan konservasi. (bersambung)…













