MALALAYANG BEACH WALK : TRANSFORMASI WISATA BAHARI DALAM VISI MANADO KOTA CERDAS BERBASIS EKOWISATA

Kota Manado299 Dilihat

Penulis :

Easter Ch.M. Tulung, S.IK, M.Si    

(Dosen Pariwisata Politeknik Negeri Manado)

Linda E.M. Sinolungan, S.Pd, MM

(Dosen Pariwisata Politeknik Negeri Manado)

Bagian Ketiga

3. Malalayang Beach Walk : Ikon Kota Cerdas Berbasis Ekowisata

Meskipun Malalayang Beach Walk tidak secara eksplisit disebut sebagai “ekowisata”, beberapa aspek pembangunannya menunjukkan pendekatan yang selaras dengan prinsip ekowisata dan pariwisata berkelanjutan seperti :

  1. Pemanfaatan ruang pesisir secara berkelanjutan

Kajian dari Universitas Sam Ratulangi menekankan pentingnya pengembangan wisata bahari berkelanjutan di kawasan pesisir Manado, termasuk Malalayang, dengan daya dukung lingkungan dan potensi bentang alam.

  • Penataan ramah lingkungan dan sosial

MBW dilengkapi dengan ruang terbuka hijau, jalur pedestrian, dan fasilitas publik yang tidak merusak ekosistem pesisir. Penataan ini juga memperhatikan kenyamanan pengunjung tanpa mengganggu habitat laut. MBW menjadi ruang publik yang inklusif lewat fasilitas promenade, taman dan fasilitas difabel

  • Pemberdayaan ekonomi lokal

Proyek MBW mendorong partisipasi UMKM dan masyarakat sekitar dalam sektor kuliner dan jasa wisata, sejalan dengan prinsip ekowisata yang mengutamakan pemberdayaan warga yang memberi manfaat langsung bagi komunitas.

  • Edukasi dan konservasi

Meski belum sepenuhnya terintegrasi, MBW memiliki potensi untuk menjadi ruang edukatif tentang ekosistem pesisir dan konservasi laut, yang dilengkapi dengan papan informasi atau program wisata edukatif.

  • MBW telah menjadi ikon visual dan daya tarik wisata yang lebih tepat dikategorikan sebagai wisata bahari modern dengan pendekatan berkelanjutan, bukan ekowisata murni seperti kawasan konservasi atau taman laut.
  • Untuk menjadikannya ekowisata sepenuhnya, perlu ada integrasi program edukasi lingkungan, pelibatan komunitas dalam konservasi, dan pengelolaan limbah yang ketat.

Menelisik lebih jauh lagi dampak dan pengaruh yang ditimbulkan dari kehadiran MBW dapat dilihat seperti : di area sepanjang jalan maupun kompleks Malalayang Beach Walk yang akses pencapaiannya menggunakan mobil  kurang lebih 20 menit dari Pusat Kota Manado, seiring waktu terus berkembang nampak semakin ramai dan tak henti-hentinya menunjukkan aktivitasnya sepanjang waktu, terlihat jelas Subuh sampai pagi akan dipenuhi oleh para penggemar olah raga, jogging, bersepeda, senam, jalan-jalan dan bersantai karena di tempat ini dibangun area pedestrian walk (Promenade) dengan jalur landai yang ramah keluarga dan difabel.

                           Gambar

(Aktifitas Jogging dan Senam di pagi hari)

Siang hari jalur ini melayani kesibukan rutin menuju kota ataupun keluar kota, menikmati suasana taman ditepi pantai untuk melepaskan lelah, sejenak menghindar dari lingkungan beton dan kesibukan kota, duduk makan siang bersama teman di area kuliner lokal yang menyajikan makanan khas Manado yang tyersedia di warung apung.

Sore menjelang ada saja yang mampir di tepi pantai mendekati seawall dengan pemandangan laut atau berada di promenade luas menunggu langit lembayung dengan tenggelamnya matahari dan sunset spektakuler atau memilih berjalan santai menuju spot edukasi dan konservasi di coral bridge and deck yang dilengkapi papan informasi tentang biota laut dan ekosistem pesisir, sertaberfoto ria dengan latar belakang landmark bobocha.

         Gambar 9

(Menikmati pemandangan laut menunggu langit lembayung dengan tenggelamnya matahari)

Malam tiba jenis kegiatan berubah dengan kegiatan malam yang semarak, rekreasi penduduk di taman bermain setelah seharian bekerja, menyatu dengan kehidupan malam yang menarik di tepi Pantai, mampir berinteraksi di cultural spaceyang banyak digunakan kegiatan bersifat budaya, pemilihan nyong dan noni dan aktifitas seremonial lainnya; dan sedikit lebih jauh untuk bersantai menuju ke area tower dan dermaga.

Juga ada banyak kegiatan yang dapat disajikan di sepanjang jalan pantai Malalayang yang memanjang menerus ke arah pusat kota dan bagian jalan lainnya memanjang menerus ke arah Kalasey maupun ke arah RSJ Ratumbuysang, yang diperkirakan panjang jalannya lebih dari 10 km ini, menimbulkan potensi aktifitas seremonial diadakan disini seperti : pawai-pawai, perlombaan gerak jalan, perlombaan olah raga jalan cepat, aneka perlombaan lainnya, pesta rakyat, karnaval figura, balap mobil, balap sepeda, peluncuran rally dan kegiatan lainnya.

Pantai Malalayang telah bertransformasi menjadi Malalayang Beach Walk sebagai ikon wisata bahari Manado yang modern dan inklusif, dengan penataan ruang publik yang estetik yang memperkuat fungsi sosial dan ekonomi kawasan pesisir juga menjadi simbol transformasi pariwisata berbasis komunitas dan keberlanjutan.

Maka dalam perkembangannya, perlu ada evaluasi dampak sebagai bentuk perhatian dengan secara menerus melakukan tinjauan kembali terhadap kawasan Malalayang Beach Walk ini, harus ada upaya yang dilakukan oleh individu pemerhati, peneliti atau kelompok peduli, agar kawasan yang berkarakter ini dinilai mampu menjawab permasalahan yang ada dikemudian hari dan yang lebih penting lagi bahwa kawasan ini tidak menimbulkan masalah baru akibat dari pengembangan lokasi Malalayang Beach Walk tersebut. Semoga kota Manado yang kita cintai semakin diberkati. (Selesai)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *