
Penulis :
Easter Ch.M. Tulung, S.IK, M.Si
(Dosen Pariwisata Politeknik Negeri Manado)
Linda E.M. Sinolungan, S.Pd, MM
(Dosen Pariwisata Politeknik Negeri Manado)
Bagian pertama
Malalayang Beach Walk (MBW) kini bukan hanya tempat rekreasi dan bersantai saja, tapi juga telah menjadi simbol transformasi pariwisata berbasis komunitas, berkelanjutan dan berbasis ekologi, walaupun elemen ekowisatanya tidak dikemas sebagai ekowisata murni.
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Manado 2021–2026, khususnya dalam bab strategi pembangunan wilayah pesisir dan pengembangan destinasi wisata unggulan, visi-misi pemerintahan Walikota Andrei Angouw dan Wakil Walikota Richard Sualang adalah : “Manado maju dan sejahtera sebagai kota cerdas yang berdaya saing, berbasis ekologi, teknologi, dan budaya.” Dalam visi ini, pembangunan kawasan pesisir seperti Malalayang Beach Walk (MBW) mendukung aspek ekologi dan budaya, sekaligus menjadi bagian dari transformasi kota cerdas dan berdaya saing, sedangkan misi terkait MBW Adalah :
- Meningkatkan kualitas infrastruktur dan tata ruang kota yang ramah lingkungan.
- Mendorong pengembangan pariwisata berbasis potensi lokal dan keberlanjutan.
- Memperkuat ekonomi masyarakat melalui pengembangan UMKM dan destinasi wisata baru.
Hal ini sejalan dengan visi dalam masa pemerintahan kedua dari Walikota Andre Angouw dan Wakil Walikota Richard Sualang, yaitu : “Manado maju dan sejahtera sebagai beranda Sulawesi Utara dan Indonesia ke Asia Pasifik.”
Visi ini menekankan posisi strategis Manado sebagai pintu gerbang regional dan pusat pertumbuhan berbasis teknologi, ekologi, dan budaya, dengan Misi : Penguatan ekonomi kota bertumpu pada industri jasa, perdagangan, dan pariwisata, termasuk pengembangan kawasan pesisir seperti Malalayang Beach Walk. Visi-Misi ini menjadi arah kebijakan pembangunan, termasuk keberlanjutan proyek Malalayang Beach Walk sebagai ikon wisata bahari dan ruang publik inklusif.
Dalam perjalanan transformasi wisata pantai Malalayang, mungkin masih ada sedikit ingatan kondisi keindahan alam yang amat natural di pantai Malalayang dan sekitarnya sebelum hilang ditelan masa.
- Pantai Malalayang Riwayatmu Dulu : Potret Alam yang Hampir Dilupakan
Kuatkan kembali ingatan kita di kawasan sepanjang pantai Malalayang khususnya seaside yang telah menjadi warisan alam untuk kota Manado, dimana daerah pesisir sepanjang pantai Malalayang menerus sampai ke pesisir pantai Molas merupakan ruang linier yang memanjang sepanjang garis pantai yang menjadi elemen potensial sebagai penunjang pariwisata.
Pantai Malalayang, dalam wilayah administrasi berada di kelurahan Malalayang Dua. Dalam RDTRK kawasan strategis Manado merupakan zona pariwisata. zona ini diperuntukkan sebagai kawasan pariwisata dimana kegiatan wisata alam pantai diarahkan di kelurahan Malalayang Dua, yang dalam pengembangannya didasarkan sesuai kondisi eksisting yang telah ada.
Sedikit gambaran yang terjadi di kompleks wisata Pantai Malalayang waktu itu, terlihat pada setiap akhir pekan, hari minggu, hari libur atau waktu luang tertentu dimana masyarakat berbondong-bondong memenuhi kawasan pantai Malalayang untuk mandi, berenang, atau sekedar duduk-duduk menikmati situasi pantai. Potensi pantainya yang indah bisa dinikmati setiap saat oleh siapa saja sehingga menjadikan kawasan ini sangat bernilai dan paling potensial dalam menunjang sistem kepariwisataan laut di kota Manado. Ada nilai plus, nilai kekuatan fisik, nilai sosial dan juga nilai komersial yang terkandung dalam kawasan wisata pantai Malalayang ini. Terpampang nilai kekuatan fisik lokasi yaitu pesisir pantai yang memanjang nampak indah dipandang mata dengan panorama perbukitan pulau Manado Tua, gunung Tumpa di Meras serta gugusan pulau Bunaken, pulau Manado Tua dan lalu lalang kegiatan pelayaran di seputaran perairan teluk Manado setiap harinya; keindahan pemandangan laut dengan suara debur ombaknya dan kicauan burung-burung disekitarnya yang senantiasa melengkapi suasana, yang hanya dapat di nikmati di pantai Malalayang ini; juga nampak terlihat kerumunan orang yang terkumpul dari berbagai asal sebagai interaksi sosial yang tercipta di ruang sosial, ada juga nilai komersial yang bergerak dengan munculnya kios-kios makanan, minuman, sarana-prasarana hiburan, penyewaan alat-alat mandi, berenang dan ruang-ruang khusus yang bersifat sementara sebagai ruang untuk tempat cuci, bilas yang disediakan.
Dekade awal tahun 2000-an, kota Manado mengalami perkembangan laju kesadaran akan potensi wilayah di pesisir pantai kota, bersamaan dengan itu bermuncullah kios-kios makanan, restauran, pusat perbelanjaan, pertokoan, hotel, sarana-prasarana hiburan dan kegiatan penunjang lainnya seperti kompleks pariwisata yang mulai memanfaatkan lahan di sepanjang pesisir pantai tak terkecuali dikawasan wisata pantai Malalayang yang tentunya langsung berhadapan dengan pemandangan laut dan pulau di sekitar teluk Manado. Sebagai salah satu kota pantai di Indonesia, kota Manado memiliki pusat kota yang berada di tepi pantai yang tentunya kaya akan pemandangan alam yang indah.

Gambar 1-2. Pantai Malalayang dengan kondisi ombak yang relatif tenang, dilengkapi kios kios makanan pedagang tradisional.
Melihat keberadaan kota Manado saat itu, tak bisa disangkal bahwa kota Manado telah menjadi salah satu kota yang juga ikut terseret dengan arus kuatnya modernisasi dan perkembangan kota akibat konsekuensi dari lajunya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga korelasinya kota Manado pun diperhadapkan dengan masalah yang sama yang juga dialami oleh sebagian besar kota-kota di Indonesia dan kota-kota di dunia yang dihantam oleh krisis identitas kota. Arus modernisasi telah membawa kota-kota di dunia berada pada suatu penampakan, kondisi, jenis, model, citra dan kesan yang cenderung mirip dan tidak berbeda lagi satu dengan yang lain.
Tapi dibalik memiliki potensi besar, ternyata di daerah pesisir pantai ini menyimpan masalah besar juga, karena fakta membuktikan bahwa kawasan ini sering menjadi tempat muara sampah dan kotoran akibat bawaan sungai-sungai yang bermuara di laut teluk Manado ataupun perilaku buruk masyarakat sekitar yang menjadikan area pantai sebagai tempat membuang sampah sehingga kawasan ini memperlihatkan lokasi permukiman kumuh, semrawut, masyarakat disekitarnya terkesan miskin, terisolasi dan menjadi wilayah terpinggirkan serta dianggap sebagai bagian belakang kota Manado.
Pada tanggal 14 Februari 2017, Walikota Manado mengeluarkan Surat Keputusan tentang Memorandum Program Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (MP-RP2KPKP) yang menetapkan Kelurahan Malalayang Dua masuk pada lokasi Pencegahan Permukiman Kumuh, sehingga pemerintah pusat lewat Kementerian PUPR memiliki akses penanganan lewat Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) yang dimulai dengan pendekatan skala lingkungan dengan penyusunan Rencana Penataan Lingkungan Permukiman (RPLP) di Kelurahan Malalayang Dua dan intervensi yang lebih besar lagi lewat penanganan skala kawasan di lokasi wisata Pantai Malalayang.
Seperti umumnya permasalahan yang dihadapi wilayah pesisir pantai di kota Manado yang disebutkan diatas, dan khususnya kawasan Pantai Malalayang ini cukup lama tidak tersentuh oleh kegiatan penataan yang lebih baik dan bagus dari pihak pemerintah maupun pihak swasta apalagi kepedulian masyarakat. Akhirnya karena beberapa kritikan, perhatian bahkan kepentingan yang tertuju pada kawasan ini, pemerintah menyadari keberadaan kawasan dan mulai mengembangkan potensi besar didalamnya. Maka tak terhindarkan muncullah berbagai kegiatan yang berhubungan dengan pemanfaatan lahan pesisir pantai yang mengakibatkan pola penggunaan lahan di kawasan ini berubah dengan cepat sesuai perkembangan dan kepentingan orang maupun pemerintah. (bersambung]









